IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Telat di Bawa ke Rumah Sakit, Lima Anak Meninggal Akibat DBD

IDCFM.NET, Balikpapan—Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menegaskan Balikpapan sudah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala DKK Kota Balikpapan Dr. Balerina JPP, MM. mengatakan dengan dinyatakannya kasus DBD kini ditemui di seluruh kecamatan di kota Balikpapan sehingga dinyatakan kota ini telah endemis DBD. Seluruh masyarakat diminta waspada dan melakukan pencegahan melalui 3M (menguras, menutup dan mengubur).

“Kita sudah dikatakan kota endemis DBD. Artinya setiap kecamatan udah ada. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama meningkat,” ujar Balerina.

Berdasarkan data DKK Kota Balikpapan, memasuki minggu ketujuh tahun 2019 tercatat 427 kasus DBD yang ditangani oleh rumah sakit.  Dari ratusan kasus yang ditangani lima diantaranya meninggal dunia. Balerina tekankan korban yang meninggal tersebut akibat Dengue Shock Syndrome (DSS) DBD atau terlambat membawa ke rumah sakit.

“Mereka hampir semua ini karena telat dibawa ke rumah sakit. Sudah demam beberapa hari. Baru dirawat dua dan tiga hari di rumah sakit meninggal. Dua dari Balikpapan Utara, kemudian klandasan Ilir, Sepinggan raya, Manggar,” ujarnya menyebutkan.

Melihat hal tersebut, Balerina ingatkan masyarakat  orangtua untuk tidak menganggap sepele ketika anak mengalami demam dan kemudian menurun di hari berikutnya. DKK juga telah keluarkan surat edaran yang dilayangkan pada seluruh puskesmas dan rumah sakit di Balikpapan untuk lakukan kewaspadaan dini. Artinya, setiap ada pasien demam cara penanganannya seperti menghadapi pasien DBD.

“Karena sudah meningkat kasus, kita surati rumah sakit dan puskesmas bilang kewaspadaan dini artinya setiap demam panas di suspek. Surat itu sudah kita layangkan pada januari,” kata Balerina.

Untuk kegiatan fogging (pengasapan), kata Balerina, baru bisa dilakukan ketika pada kawasan tersebut didapati tiga atau empat kasus DBD. Kegiatan fooging harus melalui prosedur dengan melaporkan ke RT dan puskesmas setempat. Ketika sudah ditetapkan jadwal fogging seluruh rumah diminta untuk dibuka.

“Bila kita fogging semua rumah harus membuka rumahnya jangan ada yang ditutup didalamnya. Nanti ada nyamuk,” kata Balerina.

“Untuk kegiatan fogging tidak bisa dilakukan swadaya. karena kalau tidak ada kasus DBD disana bisa jadi racun. Ada syarat khususnya untuk dilakukan fogging. Kalau ada kasus tapi tidak layak fogging kita lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan bagikan abate,” ujarnya menambahkan. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme