IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Harapan Gebi, Pencetus Maskot Beruang Madu Balikpapan

Gabriella Fredriksson saat menerima penghargaan dari Walikota Balikpapan Rizal Effendi, dalam upacara HUT ke-122 Kota Balikpapan pada Ahad (10/02/2019). (Foto: Rara Aywara)

IDCFM.NET, Balikpapan— Gabriella Fredriksson, Pencetus Beruang Madu sebagai maskot Balikpapan didaulat sebagai satu dari 10 tokoh inspiratif penerima penghargaan anugerah khusus dalam rangka HUT ke-122 Kota Balikpapan.

Pemilik sapaan akrab Gebi ini merupakan ahli biologi dari University of Amesterdam yang melakukan penelitian terhadap beruang madu Balikpapan mulai tahun 1997. Selama lima tahun atau hingga tahun 2001 Gebi melakukan penelitian keberadaan beruang madu dan hutan disekitar Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW).

“Pertama kali saya melihat binatang yang besar hitam di sana. Saya liat orangutan, bekantan dan uwak-uwak. Tapi tidak pernah ada yang menulis tentang beruang di Asia ini. Itulah saya coba meneliti,” ujarnya kepada wartawan usai menerima penghargaan pasca Upacara HUT ke-122 Kota Balikpapan bertempat Lapangan Merdeka pada Ahad (10/02/2019) pagi.

Hasil dan temuan Gebi selama penelitian di HLSW dalam kurun lima tahun tersebut pun disampaiikan kepada walikota Balikpapan yang kala itu diduduki oleh Tjutjup Soeparna dan dilanjutkan oleh Imdaad Hamid. Selain memaparkan hasil penelitian, Gebi juga melampirkan foto-foto satwa di HLSW, termasuk juga beruang madu.

“Akhirnya habis beberapa tahun perjuangan itu ada, Balikpapan sendiri sebenarnya yang berinisiatif untuk beruang madu sebagai maskot. Ternyata mereka suka logo itu. Kemudian KNPI da lomba desain beruang madu dan 2002 menjadi maskot kota,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

ia menyebutkan, beruang ada delapan jenis di dunia dan beruang madu belum pernah ada yang buat penelitian. Padahal berdasarkan hasil penelitiannyam beruang madu sangat pentinguntuk ekosistem hutan, diantaranya penyebaran biji dan membantu komposisi.

Di Balikpapan, kata Gebi, beruang madu cukup terkelola dengan baik ketika periode Imdad Hamid sebagai walikota. Namun pada tahun 2015 terjadi masalah dalam pengelolaan hutan, pihaknya pun masuk untuk membantu pemerintah daerah.

“Setelah itu menjadi maskot kota Balikpapan mulai sita beruang madu beberapa ekor mau diperkenalkan ke masyarakat. Kita lanjut kembangkan pusat pendidikan lingkungan hidup di kilo 23 yang agrowisata di sana sekarang ada enam ekor beruang madu,” ujarnya menyebutkan.

Sampai saat ini, Gebi beserta timnya di bawah naungan Yayasan Pro Natura, mulai menjajaki potensi perluasan lalu lintas satwa, khususnya beruang madu, agar populasinya bisa meningkat. ia mempelajari adakah potensi antara HLSW, Inhutani dengan Bukit Soeharto agar menjadi lokasi pergerakan beruang madu. Penelitian juga ditekankan lebih soal pendidikan lingkungan hidup beruang madu, peran hutan seperti apa di lingkungan yang perlu dijaga seperti apa.

“Kalau kita lihat hutan di luar hutan lindung sebenarnya sangat pesat dengan adanya pembangunan jalan pulau balang. Hutan dari sebelah hutan lindung juga sudah banyak yang rusak. Di sebelah utara wilayah Inhutani juga banyak kerusakan konversi hutan. Sekitar hutan lindung Sungai Wain yang sekarang cukup mencemaskan. Binatang seperti itu perlu wilayah yang cukup luas untuk populasinya,” kata Gebi.

Wanita asal Swedia ini berharap dengan dikenalkannya beruang madu pada masyarakat Balikpapan, kecintaan dan kepedulian masyarakat akan semakin meningkat.

“Hutan yang sebenarnya jantung Balikpapan. Industri minyak tergantung penuh dari hutan lindung sungai Wain. Jadi menurut saya dengan terangkatnya sedikit beruang Balikpapan akan lebih lagi ikut serta dalam pengelolaan lingkungan dan hutan,” kata Gebi lagi. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme