IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Walikota Curhat Soal DBH Migas Kepada Deputi Gubernur BI

IDCFM.NET, Balikpapan—Dalam serah terima jabatan (Sertijab) Pemimpin Bank Indonesia Balikpapan dari Suharman Tabrani kepada Bimo Epyanto, Walikota Balikpapan sempat curhat mengenai Dana bagi Hasil Migas (DBH). Curhat ini disampaikan Walikota Rizal Effendi saat menyampaikan sambutan, yang mana kegiatan itu juga dihadiri oleh Erwin Rijanto, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

“Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan ini pak Erwin, termasuk salah satu kota mahal di Indonesia. Kita ini hampir semua kebutuhan pokok didatangkan dari luar terutama Surabaya Jawa Timur. Kemudian kita juga bergantung dengan Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan,” ujar Rizal pada Jumat (08/02/2019).

Ia mencontohkan kebutuhan telur di Balikpapan per hari mencapai satu sampai dua juta butir. Dari jumlah permintaan tersebut, 90% datang dari Surabaya dan Makassar dan Pare-pare. Oleh sebab itu Balikpapan masuk sebagai kota mahal di Indonesia. Walaupun diakui sebagian masyarakat Balikpapan tidak mempersoalkan tingginya harga kebutuhan pokok, sepanjang pasokan tetap terjaga.

“Meskipun sebagian tidak mempersoalkan mahal yang penting ada, tetapi ini kan tetap saja menjadi pengeluaran konsumsi yang tinggi. Ketika harga-harga mahal apalagi sekarang pendapatan orang Kalimantan tidak segampang dulu lagi. Orang Kaltim itu pak Erwin, tahun 50-an mampu dengan sumber daya alam. Bayangkan 122 tahun Balikpapan hidupnya dari salah satunya minyak tapi kan minyak tidak seperti dulu lagi,” kata Rizal.

Dalam kesempatan itu Walikota Rizal juga menyingung soal DBH yang mana pada akhir tahun 2015 pemerintah pusat memangkas 50 persen, sehingga jika sebelumnya DBH kota Balikpapan Rp. satu triliun, kini menjadi Rp. 500 miliar. Akhir tahun adalah saat dimana pemerintah kota melakukan pembayaran kegiatan namun menjadi tertunda akibat pemangkasan tersebut.

“Sejak itu tahun 2015-2016 pertumbuhan ekonomi Kaltim minus. Bayangkan pertumbuhan ekonominya sendirian aja yang minus. Baru tahun ini kita plus itupun di angka 1% bukan angka yang baik nasional yang tumbuh 50. Kita masih jauh,” ujarnya.

Ia pun membandingkan dengan perolehan DBH Migas di Papua dan Aceh yang memperoleh 60 % untuk gas dan 30 % untuk minyak.  Berbeda dengan Kalimantan Timur atau Kalimantan itu gasnya 30% minyaknya 16%. Pemangkasan DBH ini mempengaruhi proyek-proyek strategis did aerah seperti pembangunan trans Kalimantan dan Jembatab Pulau Balang yang sudah dicanangkan sejak 20 tahun silam.

Rasa ketidakadilan sikap Pemerintah Pusat kepada Kalimantan Timur, membuat pemerintah daerah saat itu mencetuskan ide pemekaran wilayah. Ide ini dengan harapan pembagian DBH Migas ke Kaltim akan bertambah sehingga bermanfaat untuk membangunan.

“Saya bilang Trans Sulawesi ada Pak JK,  Trans Sumatera banyak orang Sumatera di Jakarta, Trans Jawa tidak perlu lagi diperbincangkan. Tapi Trans Kalimantan sampai sekarang belum beres, Jembatan Pulau Balang belum selesai sudah 20 tahun. Dan yang kita sakit hati Pak Erwin itu jalan Trans Kalimantan dari Banjarmasin ke Balikpapan ngomong begini, kalau kalau kita masih tertidur itu masih jalan wilayah Kalimantan Selatan. Tetapi kalau sudah terbangun itu jalannya jalan khusus di Kalimantan Timur ini sesuatu yang tidak enak bagi kita semua,” ujarnya lagi.

Kepada Suhamran Tabrani Pemimpin Bank Indonesia Balikpapan yang lama, ia berharap semakin maju prestasinya. Sementara kepada Bimo Epyanto ia berharap bisa bersinergi dalam pembangunan daerah dan melanjutkan kembali program-program Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang sudah ada.

“Kami yakin dengan pengalaman pak Bimo saat menjabat di Padang tentunya akan mendapat banyak dukungan dari beliau. Agar kota ini juga Provinsi Kaltim bangkit dan maju kembali,” ujarnya. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme