IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Bank Indonesia Dorong KTI Menuju Halal Value Chain

sekitar 200 lebih undangan dari kalangan akademis, lembaga zakat, pesantren, perbankan, UKM dan media menghadiri seminar penguatan ekonomi syariah di Hotel Grand jatra, Balikpapan Super Block pada Jumat (02/11/2018)

 

IDCFM.NET, BALIKPAPAN– Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 diatas lima persen. Pencapaian ketahanan fundamental Indonesia ini cukup tinggi dibanding kondisi ekonomi negara lain

“2018 pertumbuhan ekonimi 5.27 persen. Khusus wilayah KTI tumbuh 5.25. Lebih tinggi dibanding 2017 yg hanya 5.02 persen,” ujar Wiwiek Sisto Hidajat- Kepala Departemen Regional III Bank Indonesia, dalam Seminar Penguatan Ekonomi Syariah Melalui Pengembangan Regional Halal Value Chain di Balikpapan pada Jumat (02/22/2018).

Pandangan Wiwik, Kalimantan Timur (Kaltim) yang merupakan Kawasan Timur Indonesia (KTI) agak berbeda dengan yang lain. Kondisi di Kaltim karakteristik perekonominnya didorong pertumbuhan sektor regional seperti pertambangan, batubara, nikel dan tembaga.

Untuk itu lanjutnya, perlu dicari sumber pertumbuhan ekonomi baru, salahsatunya adalah penguatan ekonomi syariah melalui pengembangan regional halal. Bisnis mainstream sektor ini cukup potensial di Indonesia.

Di KTI, Provinsi Sulawesi Tengah dan NTB telah kembangkan pada kegiatan bersifat syariah. Ada 500 UKM dari dua provinsi tersebut yang komitmen dalam bisnis berbasis syariah. Sementara itu, BI Provinsi Kaltim dan Kalsel juga sedang menyelesaikan roadmap sektor serupa.

“State of the Global Islamic Economy Report 2016/2017 mencatat Indonesia masuk 10 besar. PDB Nasional Indonesia yang lebih dari 1000 miliar US Dollar pangsa Ekonomi syariah sudah 25 persen. Dan ini tersebar dibeberapa industri baik keuangan, makanan minuman atau industri yang dikembangkan sekarang wisata halal,” ujarnya.

Wiwiek menyebutkan ada tiga pilar dalam kembangkan ekonomi syariah yaitu pemberdayaan usaha, kembangkan pasar keuangan syariah dan penguatan riset dan edukasi. Pengembangan dari hulu ke hilir melalui jaringan yang telah sukses juga menerapkan Halal Value Chain juga dilakukan. Sehingga KTI road map pengembangan akan menekankan pada pengembangan usaha halal.

“Jangan kalah dengan kawasan timur tengah dan Asia yg sudah masuk dalam distro perkembangan syariah. Jangan kalah dgn negara non muslim seperti Tiongkok, Australia dan Kanada kembangkan Halal Value Chain. Karena ini potensi besar, kita dorong terus sehingga bisa jadi satu ekonomi syariah yang besar di KTI,” ujarnya.

Dadang Muljawan- Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) berujar untuk penguatan ekonomi syariah di daerah adalah dengan kembangkan produk lokal dan mengurangi impor. Rekayasa domain juga bisa dilakukan guna membangun industri halal lintas kabupaten kota, hingga lintas daerah.

“Bengkulu memproduksi pisang banyak sekali dan mengimpor beras dari Lampung. Saya bilang warga Bengkulu ganti sarapan dengan dua pisang setiap hari. Kandungan kalori besar. Saya hitung ganti beras dengan dua pisang sangat tinggi dan itu bisa kurangi devisa Bengkulu sekian miliar. Ini salah satu contoh bagaimana kita bisa merekayasa demain,” kata Dadang menjelaskan.

Selain rekayasa domain, Pengembangan Regional Halal Value Chain yang potensial dewasa ini adalah food dan fashion. Saling memenuhi kebutuhan antar pesantren juga juga patut dikembangkan.

“Ini beberapa proses ketika membangun industri halal ketika butuh produk lokal non halal yg kita lakukan adalah tidak bisa produksi semua kebutuhkan. Yang bisa dihalalkan adalah menghubungkan misalnya Balikpapan dengan Banjarmasin, Balikpapan dengan Jakarta. Ini yang disebut kita mencoba agar produk Balikpapan bisa diserap provinsi lain,” kata Dadang.

Rizal Effendi- Walikota Balikpapan berujar tingkat pemahaman warga Balikpapan tentang halal kian meningkat. Hal ini menunjukkan masyarakat Balikpapan sangat peduli dengan kehalalan.

“Sekarang orang memperaoalkan kehalalan suatu produk. Salahsatunya vaksin MR yang saat ini diperpanjang lagi karena belumencapai target. Ini menunjukkan sudah peduli dengan kehalalan,” ujar Rizal.

Data dari Balai POM MUI tahun 2015, kecenderungan memilih produk ber-logo halalĀ  menduduki peringkat empat besar. Faktor tertinggi tiga besar yang menjadi pertimbangan masyarakat ketika berbelanja adalah merk, kualitas dan harga.

“Tahun 2015 kecenderungan memilih ada logo halal baru 38 persen. Namun saya yakin tahun ini sudah lebih tinggi seiring bertambahnya tingkat pemahaman masyarakat kita,” ujarnya. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme