IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

OCDay: Kesetaraan Belajar dan Bermain Dalam Mendidik Anak di SLBN Balikpapan

 

Siswa-siswi SLBN Balikpapan melakukan senam Germas, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Belajar Di Luar Kelas OCDay pada Kamis, (01/10/2018).

 

IDCFM.NET, BALIKPAPAN– Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia (RI) menyambangi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan pada Kamis (01/11/2018) pagi. Kunjungan ini dalam rangka meninjau pelaksanaan  Kampanye Global Outdoor Classroom Day (OCDay) atau hari belajar di luar kelas di SLBN Balikpapan. Sekolah yang berada di Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan ini merupakan satu dari 11.097 sarana pembelajaran di Indonesia yang mendeklarasikan sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA).

“Dengan belajar diluar kelas mereka berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka belajar bekerja sama dan saling mendukung dan toleransi Hal ini penting untuk bekal anak-anak di masa depan,” ujar Lies Rosdianty- Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil Informasi dan Partisipasi Anak KPPPA RI kepada wartawan disela-sela kegiatan.

Lies mengatakan, OCDay melalui SRA dimulai sejak tahun 2017 yang diawali dengan kerjasama antara Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak dengan Ketua OCDay di Global yang berpusat di London. Kata Lies, Indonesia dinobatkan sebagai peringkat kedua yang mengkampanyekan OCDay.

“Yang menjadi indikator penilaian banyaknya jumlah sekolah yang mengikuti OCDay dan banyaknya materi yang dijalankan ini dengan kategori sekolah terbanyak dan konsep yang bervariatif,” kata Lies.

Tahun ini OCDay dilaksanakan dengan menggunakan konsep yang bervariatif dari sebelumnya. Terdapat 17 langkah kegiatan dan 10 nilai positif yang dilakukan oleh anak-anak dalam durasi waktu sekitar 3 jam antara lain pembentukan karakter positif iman dan taqwa kesehatan adaptasi perubahan iklim pelestarian permainan tradisional cinta tanah air pengurangan resiko bencana literasi dan mendorong sekolah ramah anak.

“OCDay mestinya dibudidayakan. Bermain merupakan hak anak. Kita tidak boleh melarangnya. Setiap sekolah bebas mengembangkan konsep belajar dan bermain dalam mendidik anak murid, namun tetap berpedoman pada petunjuk teknis kementrian,” kata Lies menambahkan.

Dewi Maharani- Siswi Kelas 10 SLBN Balikpapan mengaku menyukai kegiatan belajar diluar kelas. Kegiatan di luar kelas yang paling ia sukai adalah membersihkan lingkungan, menyiram tanaman  dan membaca.

Gadis berbalut jilbab ini berujar, belajar di luar kelas ia memiliki banyak teman dan bermain bersama teman satu sekolah.

“Harapan saya dengan belajar di luar kelas, saya mau cari teman yang banyak. Supaya semua damai, aman dan nyaman lagi,” ujarnya.

Kiat SLBN Balikpapan dalam mendidik anak murid juga diacungkan jempol oleh Rangga. Siswa yang pernah mewakili Kaltim dalam lomba sinopsis di Jakarta ini merupakan murid tuna netra yang saat ini duduk dibangku kelas Sembilan.

“Belajar di luar kelas ini memberi manfaat tambah ilmu dan wawasan. Bertemu dan bermain dengan teman-teman dari kelas lain juga menyenangkan,” kata Rangga malu-malu.

Mulyono- Kepala Sekolah SLBN Balikpapan mengatakan sebagai sarana pendidikan yang mendeklarasikan sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA) dewan guru diajak selalu berfikir kreatif dan inovatif.

Masing-masing guru kelas juga diarahkan untuk mendidik siswa-siswinya untuk disiplin dalam hal positif dan punya tanggungjawab lingkungan.

“Kita ada Jumat bersih yang mana setiap kelas punya tanggungjawab lingkungan. Kita dukung sekolah berseri,” ujar Mulyono.

Untuk menunjang SRA, sekolah ini dilengkapi kamera CCTV dibeberapa sudut. Sekolah ini satu-satunya SLB di Kalimantan Timur dengan jam belajar awal pada 07:30. Sementara SLB lainnya memiliki jam belajar awal pada 08:00 dan 08:30.

“Karakter anak di sekolah ini macam-macam. Ada yang habis odol dan sabun baru mau keluar dari kamar mandi. Datang ke sekolah sudah terlambat. Saya selalu menunggu di depan dan kalau ada yang terlambat saya sapa dengan senyum dan bilang besok jangan terlambat lagi ya. Itu bagian dari ramah juga,” kata Mulyono menjelaskan.

Mulyono mendukung kampanye OCDay sebagai sarana mendeklarasikan SRA. Kegiatan SRA di SLBN Balikpapan diisi dengan yel-yel dekarasi SRA, yel-yel go green, senam bersama, permainan tradisional dan simulasi sadar bencana.

“Sebenarnya kegiatan outdoor sudah ada namun tidak bersama-sama. Bisa nanti kegiatan seperti ini dibuat saat hari autis, down syndrom, hari anak atau saat pembagian ulangan semester,” ujarnya.

Hari OCDay tercatat 3.464.843 anak-anak di 27.819 di sekolah dunia terlibat dalam ACDay. 927.395 adalah partisipan anak-anak di seluruh Indonesia yang mewakili 5.556 sekolah/ madrasah di Indonesia. Mereka semua merayakan kegembiraan belajar di luar kelas pada satu November 2018. Adapun sekitar satu juta anak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang berasal dari 10.000 lebih satuan pendidikan di seluruh pelosok tanah air.

OCDay merupakan kampanye global untuk menginspirasi aktivitas belajar di luar kelas, minimal 90 menit setiap hari. Jutaan anak dari ribuan sekolah di seluruh dunia turut mengambil bagian dalam kampanye ini.

Sekitar lebih dari 120 negara pada hari ini melakukan gerakan belajar di luar kelas, diantaranya Inggris, Australia, India, Colombia, Arab Saudi dan Amerika. (Imy)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme