IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Screen House, Rekayasa Iklim Untuk Tingkatkan Produksi Cabai

Suasana tanam bibit cabai secara simbolis oleh pihak terkait. (Imay/ IDCFM)

IDC FM, Balikpapan— Satu unit screen house (Rumah Kasa) berukuran 10 x 15 meter dibangun dikawasan RT 39 Kelurahan Manggar Baru Balikpapan Timur pada Jumat (14/09/2018). Screen house terbuat dari baja ringan ini merupakan bantuan kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan kepada kelompok tani Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Sehat Sejahtera yang dimanfaatkan untuk budidaya cabai.
Penyerahan diberikan langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, Suharman Tabrani kepada Ketua Kelompok Tani KRPL Sehat Sejahtera Siti Aminah. Secara simbolis Suharman melakukan penanaman bibit cabai, yang juga diikuti oleh Camat Balikpapan Timur, Suranto dan Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Muhammad Syukur serta perwakilan dari Dinas Pertanian Kota.
“Screen house dilatarbelakangi oleh kendala produksi yang dihadapi kelompok sebagai dampak anomali cuaca dengan curah hujan tinggi di Kota Balikpapan. Padahal potensi cabai dan tanaman holtikultura dinilai bagus untuk dikembangkan di Kota Balikpapan terutama mengingat kebutuhan cabai yang tinggi,” ujar Suharman Tabrani kepada wartawan disela acara penyerahan.
Keberadaan screen house ini, kata Suharman, mampu mendukung peningkatan produksi cabai di Kota Balikpapan. Selain itu, screen house menjadi opsi edukasi agrobisnis budidaya cabai sehingga dapat mendorong kesejahteraan petani lokal. Untuk itu didalam screen house tanaman cabai dibagi dalam dua kategori yaitu cabai yang diberi pupuk organik dan yang tidak. Hal ini dibuat sebagai perbandingan.
“80 Persen kebutuhan cabai kita dipasok dari luar daerah. Harapan kami dengan screen house produksi meningkat. Dan ini menjadi sentra pelatihan dan pembelajaran bagi petani cabai di Balikpapan dan dari luar,” kata Suharman.
Sebelum kegiatan gunting pita sebagai penyerahan simbolis screen house, petani cabai diajak untuk berdialog oleh dosen peneliti dari IPB Muhammad Syukur. Muhammad Syukur merupakan peneliti khusus tanaman holtikultura tropika dan berpengalaman kerjasama dengan pihak di Indonesia terkait tanaman holtikultura.
Dalam dialog tersebut, seorang petani menanyakan apa penyebab tanaman cabai rontok dan bagaimana mengaatasinya.
“Beberapa waktu lalu saya tanam cabai. Dalam perjalanan ketika berbuah cabainya rontok. padahal batangnya bagus. itu kira-kira karena apa dan bagaimana kiat antisipasi,” tanya petani tersebut.
Muhammad Syukur menjelaskan, ada tiga hal yang menyebabkan kerusakan pada tanaman cabai yaitu hama, lingkungan dan cuaca. Curah hujan tinggi dan suhu yang tinggi menjadi salahsatu penyebabnya.
Kiat antisipasi yang bisa dilakukan adalah membiarkan seluruh cabai dalam pohon tersebut rontok kemudian mengambil sampel buah dan pohon untuk diuji. Pada varietas cabai tertentu, kata Syukur, ada tanaman cabai yang sengaja rontok guna memacu vegetatifnya.
“Kalau rontok, dihabiskan dulu yang terserang tadi agar tidak menular ke yang lain. Itu kalau kena jamur. kalau suhu tinggi, jarak tanam dirapatkan. Ada cabe keriting untuk kebutuhan vegetatif tumbuh ke atas. Kalau berbuah di cabang satu dan dua dibuang, supaya memacu pertumbuhan vegetatifnya,” katanya.
Ia berujar, Balikpapan cukup potensial dalam budidaya cabai. Peneliti khusus tanaman holtikultura tropika ini mengatakan tekstur tanah berpasir menjadi salahsatu alasan, kenapa bertani cabai cukup menjajikan dikota ini.
“Kita harus bersyukur balikpapan punya lahan berpasir sedemikian rupa. Tapi air juga sangat penting untuk tanaman,” ujarnya
Syukur juga mengapresiasi langkah KPw BI Balikpapan yang komitmen melakukan pengembangan klaster cabai yang akan diarahkan pada peningkatan budidaya, peningkatan kelembagaan ekonomi petani, dan perluasan akses pasar.

“Screen house ini kalau menggunakan baja ringan bisa bertahan 10 tahun. Biaya pembibitan, perawatan dan hingga mendekati panen akan kembali modal dalam satu tahun. Dengan ketentuan harganya diatas 15.000 rupiah per kilo,” ujarnya. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme