IDCFM.NET

Portal Berita Online Radio IDC 89.5 FM

Trauma di Vaksin, Wali Murid Lebih Yakin Metode Thibbun Nabawi

Siswa MTS Negeri 1 Balikpapan mencoba menahan sakitnya suntikan Vaksin MR. Tampakdr. Esther Vonny K, MMR, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Balikpapan dan Fahrul Razi Camat Balikpapan Utara (Tengah) memantau hari pertama kegiatan ini.

 

IDCFM, Balikpapan—Penggalakan Imunisasi kombinasi vaksin campak atau Measle dan Rubella (Imunisasi MR) di MTS Negeri 1 Balikpapan pada Rabu (01/08/2018) tidak berjalan mulus. Didapati 13 wali murid yang menyatakan keberatan anaknya disuntikkan cairan vaksin tersebut.
Seluruh wali murid yang menyatakan keberatan pada hari itu juga dikumpulkan dalam satu ruangan dan menerima pengarahan dari Dinas Kesehatan. Sebagian menyangsikan kehalalan produk vaksin dan ada pula yang mengaku trauma karena pernah mengalami alergi pasca di imunisasi.
“Saya trauma. Anak pertama saya bernama Salsabila setelah di vaksin langsung timbul bercak-bercak pada kulitnya. Di garuk pakai tangan juga ga mempan gatalnya ga ilang,” ujar Yunus, wali murid kelas tujuh MTS Negeri 1 Balikpapan, dalam sosialisasi tersebut.
Meski demikian ia tetap menghormati program pemerintah dalam memberikan imun kekebalan tubuh pada warganya.
“Saya bukannya menolak. Anak saya ini sudah menikah. Kemaren mau nikah disuntik juga muncul reaksi alergi. Jadi sama yang satu ini masih trauma saya,” katanya.
Penolakan serupa juga dilontarkan Heri Abusalsa. Heri mengatakan sebagai umat muslim konsep kesehatan adalah urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan umatnya melakukan pengobatan secara Thibbun Nabawi.
Metode ini tertuang dalam ayat-ayat kitab suci Al-Quran dan Banyak hadist yang menerangkan mengenai metode ini. Baik berkaitan dengan kedokteran berupa pencegahan ataupun pengobatan.
“Dalam Islam ada konsep Thibbun Nabawi. Salahsatunya adalah anak bayi cukup diberikan ASI dan madu. Madu itu dititipkan Alloh kepada lebah untuk menjadi obat bagi manusia,” ujarnya.
Heri berpandangan keharusan orangtua membuat surat pernyataan penolakan sangat tidak adil. Apalgi pemerintah cenderung memaksa agar seluruh sasaran program ini memperoleh vaksin. Seharusnya, kaya Heri, pemerintah juga membuat surat pernyataan akan bertanggungjawab jika si anak mengalami sakit pasca disuntikan cairan vaksin MR pada tubuh sang anak.
“Apakah vaksin ini menjamin anak kita ga akan kena penyakit? Yang divaksin ini darah daging saya, jiwa raga saya. Kalaupun saya setuju, harusnya pemerintah bikin surat pernyataan kalau akan bertanggung jawab. Jadi kami enak nuntutnya,” tuturnya.
Mengenai kehalalan vaksin MR, dr. Esther Vonny K, MMR, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Balikpapan berujar hal ini adalah kewenangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun ia mengatakan saat ini LP POM MUI masih mempelajari kandungan isi dari vaksin MR yang berasal dari negara India tersebut.
Dinkes sebagai penyelenggara kesehatan milik pemerintah hanya berupaya untuk memberikan kekebalan tubuh pada anak. Karena kegiatan ini dilakukan ratusan negara di dunia.
“Sudah ada 100 negara yang melakukan ini. Tahun 2020 Kita harus eliminasi campak dan rubella. Kalau Indonesia tidak menjalankan ini, dunia akan menganggap Indonesia berbahaya untuk campak dan rubella,” terangnya.
Bagian Umum MTS Negeri 1 Balikpapan Edy Praptomo mengatakan, Sosialisasi yang berlangsung selama satu jam tertsebut membuahkan hasil positif. Ia berujar satu wali murid yang tadinya ragu, akhirnya memutuskan untuk menerima dan bersedia anaknya di vaksin, tiga wali murid masih menyatakan ragu dan lima wali murid menolak dengan alasan tertentu.
“Ada yang menolak karena anaknya lagi sakit, kondisi tubuh masih lemah. Ada juga yang mau disuntik meningitis karena mau berangkat umroh. khawatir kalau di suntik MR nanti ada efek samping. Kalau yang benar-benar menolak empat wali murid,” kata Edy. (Imy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio IDCFM © 2018 Frontier Theme