Pertumbuhan Minus, Kaltim Perkuat Lembaga Penjaminan

Balikpapan (idcfm.net)–Kantor Bank Indonesia Balikpapan menggelar temu responden diseminasi kebijakan moneter dan outlook 2016, bertempat Hotel Grand Senyiur, Balikpapan pada Kamis (26/11).

Dalam pertemuan tersebut disampaikan akibat ekonomi lesu, tahun ini terdapat 4 provinsi dengan pertumbuhan minus, salahsatunya Kalimantan Timur dengan angka -3,49 %. Sementara 3 provinsi lainnya adalah Riau -1,2 %, Papua -0,6% dan Aceh -0,4%.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kaltim Ir.. M. Sa’bani, M.Sc berujra, untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi di masyarakat, pihaknya akan perkuat lembaga penjaminan. Sehingga akses permodalan bagi pemodal baru yang belum bankable, bisa turut difasilitasi.

kakao

salahsatu sektor pertanian di Kaltim yang akan dikembangkan. (ist)

“Selain investasi swasta seperti kegiatan ground breaking sejumlah proyek strategis di Kaltim, pemprov juga membantu pemodal baru,” terang Sa’bani kepada wartawan usai kegiatan diseminasi.

Sa’bani juga mengaku untuk memperkuat di jaringan marketing, pihaknya terus melakukan pelatihan kualitas SDM dan memperbaiki kemasan produk dimasing-masing dinas agar masuk dalam kompetisi disektor industri maupun sektor lainnya.

“Jika semua berjalan lancar, produksinya akan terasa ditahun 2019. Kita juga kembangkan untuk swasembada pangan, khususnya singkong dan beras. Termasuk juga mengolah cpo , sawit, coklat dan sebagainya,” tambahnya lagi.

Senior VP Chief Economist PT BNI Persero, Ryan Kiryanto, menduga ada belanja pemerintah yang tidak strategis dan cenderung tidak produktif atau mungkin dipangkas. Secara nasional realisasi baru diangka Rp.700 triliun dari target Rp.1300 Triliun. Ia juga soroti langkah pemerintah dalam menargetkan pertumbuhan pajak menjadi 30 % dari yang tahun-tahun sebelmunya hanya dikisaran 10 %. Ryan juga pesimis realisasi pajak tahun ini akan mencapai target, sebab di akhir November ini saja baru terealisasi 70 %.

“Jelas data pengangguran naik, PHK naik. Kelompok ini yang daya belinya anjlok. Akibatnya mereka hanya konsumsi pulsa dan bensin saja,” kata Ryan.

Menurut Ryan kedepan Indonesia membutuhkan impor mesin untuk kegiatan produktif. Mengingat langkah ini untuk program jangka panjang. Namun jika kebijakan impor digunakan untuk barang konsumsi, dikhawatirkan berpengaruh pada defisitnya transaksi berjalan. (Imy.)

Beri Komentar

Hak Cipta © 2014 IDCFM.net Dilindungi Undang-undang. Radio IDCFM
IKLAN MELAYANG
close
Banner iklan disini